Urban Planning3 menit baca

"WeDesign": Memanfaatkan AI Generatif untuk Meningkatkan Keterlibatan Komunitas dalam Perencanaan Perkotaan

"WeDesign" mengintegrasikan AI generatif untuk memfasilitasi konsultasi komunitas yang inklusif dalam perencanaan perkotaan, mengatasi tantangan keterbatasan sumber daya dan hambatan bahasa.

Perencanaan perkotaan secara tradisional merupakan proses dari atas ke bawah, sering kali mengesampingkan suara komunitas yang paling terpengaruh oleh keputusan pembangunan. Pendekatan ini telah menghasilkan lingkungan perkotaan yang mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kebutuhan dan aspirasi penghuninya. Sebagai respons, perencanaan partisipatif telah muncul sebagai metodologi penting, menekankan keterlibatan aktif anggota komunitas dalam proses perencanaan. Dengan mengintegrasikan beragam perspektif, perencanaan partisipatif bertujuan untuk menciptakan ruang urban yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan.

Salah satu kemajuan yang mencolok dalam bidang ini adalah pengembangan "WeDesign", sebuah platform yang memanfaatkan AI generatif untuk memfasilitasi konsultasi komunitas dalam desain ruang publik perkotaan. Dikembangkan oleh peneliti Rashid Mushkani, Hugo Berard, dan Shin Koseki, "WeDesign" menggunakan Stable Diffusion XL, sebuah model teks-ke-gambar generatif, untuk menghasilkan keluaran visual instan berdasarkan masukan komunitas. Pendekatan ini mengatasi berbagai tantangan yang melekat dalam metode perencanaan partisipatif tradisional, seperti keterbatasan sumber daya, hambatan bahasa, dan ketidakseimbangan kekuasaan.

Dalam sebuah lokakarya setengah hari yang diadakan di Montreal, "WeDesign" diuji dengan lima kelompok fokus yang terdiri dari arsitek, desainer perkotaan, spesialis AI, dan warga dari berbagai latar belakang demografis. Para peserta melaporkan bahwa kemampuan platform ini untuk menghasilkan representasi visual instan dari ide-ide mereka secara signifikan meningkatkan kreativitas dan dialog. Namun, mereka juga mengidentifikasi area untuk perbaikan, termasuk kebutuhan untuk visualisasi yang lebih baik terhadap kebutuhan spesifik kelompok marjinal, penggambaran yang akurat terhadap elemen arsitektur lokal, dan dukungan untuk prompt bilingual. Wawasan ini menyoroti potensi AI generatif untuk memperluas partisipasi dan memungkinkan interaksi iteratif dalam desain perkotaan, sekaligus menunjukkan perlunya pendekatan fasilitasi yang terstruktur untuk memastikan inklusivitas dan keadilan. (arxiv.org)

Integrasi AI generatif ke dalam perencanaan partisipatif mewakili pergeseran signifikan dalam praktik desain perkotaan. Dengan memberikan alat yang memungkinkan visualisasi waktu nyata dari masukan komunitas, platform seperti "WeDesign" dapat menjembatani kesenjangan antara konsep perencanaan yang abstrak dan hasil yang nyata. Kemajuan teknologi ini tidak hanya memberdayakan warga untuk aktif membentuk lingkungan mereka, tetapi juga mendorong proses perencanaan yang lebih kolaboratif dan transparan.

Di luar inovasi teknologi, organisasi seperti Center for Urban Pedagogy (CUP) di Brooklyn, New York, telah memainkan peran penting dalam mempromosikan perencanaan partisipatif melalui pendidikan dan keterlibatan komunitas. Didirikan pada tahun 1997 oleh seniman dan arsitek Damon Rich, CUP memanfaatkan seni dan desain untuk meningkatkan keterlibatan sipil, terutama di kalangan komunitas yang terpinggirkan. Inisiatif mereka bertujuan untuk mendemystifikasi proses perencanaan perkotaan yang kompleks dan memberdayakan warga untuk menjadi peserta aktif dalam membentuk lingkungan mereka. (en.wikipedia.org)

Peran perencanaan partisipatif dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Perserikatan Bangsa-Bangsa juga semakin diakui. Sebuah artikel editorial tahun 2025 dalam jurnal "Urban Planning" mengeksplorasi bagaimana pendekatan partisipatif dapat mendorong pengembangan perkotaan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan, secara langsung berkontribusi pada TPB seperti kota yang berkelanjutan (TPB 11), pengurangan ketidaksetaraan (TPB 10), dan aksi iklim (TPB 13). Dengan melibatkan komunitas dalam proses perencanaan, pendekatan ini memastikan bahwa inisiatif pembangunan selaras dengan kebutuhan dan prioritas lokal, yang mengarah pada hasil yang lebih efektif dan berkelanjutan. (cogitatiopress.com)

Sebagai kesimpulan, integrasi AI generatif ke dalam perencanaan partisipatif menawarkan jalur menjanjikan untuk meningkatkan keterlibatan komunitas dalam desain perkotaan. Platform seperti "WeDesign" menunjukkan potensi teknologi untuk memfasilitasi proses perencanaan yang lebih inklusif dan kolaboratif. Namun, sangat penting untuk mengatasi tantangan seperti memastikan representasi yang akurat dari berbagai kebutuhan komunitas dan menjaga sensitivitas budaya. Dengan menggabungkan inovasi teknologi dengan komitmen terhadap inklusivitas dan keadilan, perencanaan perkotaan dapat berkembang untuk lebih baik melayani komunitas yang ingin didesain.

Referensi