Technology Trade Agreements13 menit baca

Pergeseran Aturan Keping AI Washington—Menuju Era Perjanjian Perdagangan Teknologi yang Mengutamakan Kepatuhan

Pencabutan aturan ekspor keping AI menandai pivot: dari kepatuhan satu ukuran untuk semua ke perizinan bertingkat yang berpusat pada koordinasi mitra dan komitmen tata kelola.

Titik belok: saat aturan keping ditarik, model perdagangan ikut berubah

Bagi perusahaan yang hendak mengekspor AI accelerator, sinyal terpenting bukan hanya apa yang Washington batasi—melainkan apa yang justru dicabut. Pada Mei 2025, Kementerian Perdagangan AS mencabut aturan era Biden yang dikenal sebagai “AI Diffusion Rule”. Aturan itu sebelumnya menetapkan persyaratan ekspor baru yang dikritik karena dinilai akan bekerja seperti “batas kuota negara” secara luas, sekaligus memicu beban kepatuhan besar bagi perusahaan yang mengirim keping ke lebih banyak tujuan non-China. (apnews.com)

Secara sederhana, pencabutan tersebut menyampaikan bahwa AS tetap mengejar tujuan keamanan—namun bersedia mendesain ulang mekanismenya, terutama ketika biaya kepatuhan mulai mendistorsi rantai pasok.

Perubahan ini penting bagi perjanjian perdagangan teknologi, karena ia mengubah cara orang membayangkan “kesepakatan”. Alih-alih menganggap perjanjian masa depan sebagai tawar-menawar yang mirip tarif—mengatur akses pasar lewat kuota hasil negosiasi—logika yang kini mengemuka mengarah pada sistem perizinan yang menyematkan persyaratan bersyarat: melalui standar, kewajiban pelaporan, ekspektasi uji tuntas (due diligence), dan koordinasi antarmitra. AS bergerak menuju model “AI accelerator export licensing” di mana komitmen tata kelola menjadi satuan negosiasi, bukan sekadar identitas pengguna akhir atau negara tujuan.

Arah tersebut tampak dalam ekosistem kebijakan Commerce/BIS terkait ekspor komputasi canggih dan program pengguna akhir yang telah tervalidasi. BIS memperluas penggunaan model Validated End User (VEU)—dengan secara eksplisit memosisikan pendekatan ini sebagai upaya membangun “ekosistem teknologi global yang aman” bersama pemerintah mitra. (bis.gov)

Sementara itu, pencabutan AI Diffusion juga disertai ekspektasi yang menguat pada uji tuntas dan risiko pengalihan dalam pedoman serta ekspektasi kepatuhan yang dibahas dalam sejumlah analisis hukum dan kebijakan. Ini menunjukkan bahwa AS mengganti rezim destinasi yang lebih “keras” dengan sesuatu yang lebih bersifat destination-regime yang lebih lentur—namun tetap menuntut “apa yang harus dibuktikan” dan “bagaimana pencegahan pengelakan” dilakukan. (mayerbrown.com)

Dari kepatuhan menyeluruh ke kerangka kepatuhan bertingkat: bahasa negosiasi baru

Pivot ini pada dasarnya adalah pergantian yang bersifat administratif: mengurangi gesekan yang terlalu preskriptif pada momen otorisasi ekspor, sekaligus menata gesekan yang lebih terstruktur pada momen saat perusahaan membuktikan kontrol.

Jika konsep sebelumnya mengisyaratkan bahwa geografi dan “spread” agregat dapat memicu beban baru, arah yang muncul dari BIS justru menempatkan kelayakan sebagai sesuatu yang bisa “diperoleh” dan dipertahankan melalui tata kelola yang dapat diaudit. Dengan kata lain, perilaku kepatuhan menjadi variabel yang membedakan antar-mitra dan konteks penggunaan akhir.

Secara konkret, eksportir seharusnya mengharapkan tiga jenis “tiering”—meskipun nama tier tersebut tidak selalu muncul dalam teks kebijakan yang menjadi sorotan utama:

  1. Tiering berdasarkan infrastruktur end-use, bukan hanya pelanggan bernama. Perluasan VEU ke pusat data menandakan BIS sedang merancang jalur perizinan dengan menautkan lisensi pada model penerapan operasional: onboarding penyewa (tenant), pengalokasian beban kerja, serta kontrol pemindahan (downstream transfer controls)—bukan pembelian satu kali oleh pengguna akhir yang statis. (bis.gov)

  2. Tiering berdasarkan kesiapan bukti (evidentiary readiness). Dalam praktik, mitra yang mampu menyediakan artefak kepatuhan—rekaman penyaringan, penilaian risiko pengalihan, log eskalasi internal, serta pembatasan penggunaan akhir dalam kontrak—lebih mungkin dipandang berisiko lebih rendah. “Kesepakatan” menjadi kemampuan pencatatan (recordkeeping) dan verifikasi, bukan sekadar surat persetujuan.

  3. Tiering berdasarkan dinamika pengalihan. Rute melalui negara ketiga dan jalur re-ekspor (re-export) makin menentukan tingkat gesekan perizinan. Kasus Applied Materials menegaskan bahwa BIS menelusuri rantai yang melibatkan transit/berhenti di pihak ketiga dan upaya re-ekspor ke pengguna akhir yang disanksi, serta menempelkan sanksi finansial pada pola tersebut. (bis.gov)

Pencabutan pendekatan AI Diffusion—yang oleh para pengkritik industri digambarkan sebagai mekanisme destinasi yang sarat kepatuhan—membuka pertanyaan lanjutan yang paling relevan bagi eksportir dan pemerintah mitra: bukti apa yang akan menggantikan beban “kepatuhan menyeluruh” sebelumnya?

Jawaban BIS adalah seperangkat komitmen tata kelola bertingkat: berpusat pada kelayakan VEU, diperluas ke pusat data, dan diterapkan lewat standar dokumentasi serta koordinasi mitra—bukan lewat kuota destinasi yang sederhana.

Realitas pusat data menciptakan celah—lalu memaksa kalibrasi kebijakan

Kontrol ekspor selalu bergulat dengan satu kebenaran yang sulit: pengadaan komputasi AI modern sering dimediasi oleh rantai pasok global, pengaturan pembelian berbasis cloud, dan infrastruktur bersama. Ketika AI accelerator dikerahkan di pusat data, pertanyaan “kepada siapa keping itu berakhir” menjadi kurang terkait lokasi geografis, dan lebih terkait tenancy, pengalokasian beban kerja, serta rantai kepemilikan (chain of custody) dari pengadaan hingga operasional.

Di sinilah pergeseran menuju VEU berbasis pusat data menjadi bermakna secara strategis. Perluasan BIS yang memasukkan pusat data mengakui bahwa ekspor dan transfer kerap terjadi melalui operator infrastruktur yang mengelola armada dan beban kerja pelanggan—bukan melalui satu pengguna akhir bernama yang menandatangani formulir dan tetap pada hubungan statis. (bis.gov)

Begitu unit operasional berubah menjadi pusat data, problem kepatuhan turut berubah. Lisensi kini harus didukung tata kelola di sekitar integritas sistem, penyaringan pelanggan, serta kontrol pemindahan ke hilir. Dengan demikian, tersedia ruang praktis bagi kerangka bertingkat untuk bekerja.

Kalibrasi kebijakan juga terlihat pada dimensi lain: kebutuhan listrik dan pertumbuhan pusat data bergerak cepat hingga “kapasitas infrastruktur” menjadi tekanan komersial tersendiri. Kementerian Energi AS melaporkan bahwa penggunaan listrik pusat data total naik dari 58 TWh pada 2014 menjadi 176 TWh pada 2023, serta memperkirakan kenaikan antara 325 hingga 580 TWh pada 2028. (energy.gov)

Angka-angka ini penting bagi negosiasi perdagangan karena memengaruhi posisi tawar. Mitra yang sedang aktif membangun kapasitas akan berargumen bahwa kuota destinasi yang terlalu kaku tidak hanya mengganggu perdagangan, tetapi juga mendistorsi jalur pengadaan—mendorong vendor dan pembeli ke struktur yang kurang transparan, sehingga lebih sulit diawasi.

Dengan kata lain: celahnya bukan hanya soal regulasi, tetapi juga soal infrastruktur. Saat pertumbuhan kapasitas bersifat mendesak, sistem kepatuhan yang terasa seperti “kuota satu ukuran” dapat tanpa sengaja mendorong jalan pintas. Pembuat kebijakan merespons dengan menggeser ke mekanisme yang dapat diskalakan mengikuti kompleksitas operasional—persis arah yang disiratkan oleh pencabutan persyaratan AI Diffusion yang luas dan perluasan VEU.

Koordinasi mitra dan “penegakan rantai pasok keping” bertemu pada titik yang sama

Pelajaran paling sering terlewat dari kisah pencabutan adalah: tekanan penegakan tidak lenyap ketika satu aturan dihapus. Jika ada, logika penegakan mengeras pada jalur pengalihan dan re-ekspor.

Contoh konkret adalah penyelesaian (settlement) BIS pada Februari 2026 yang melibatkan Applied Materials. BIS mengumumkan bahwa Applied Materials akan membayar denda perdata (civil penalty) sebesar 252 juta dolar AS karena secara ilegal mengekspor peralatan manufaktur semikonduktor—termasuk ion implanters—yang dikaitkan dengan dugaan upaya re-ekspor melalui Korea Selatan ke Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) di China, setelah SMIC dimasukkan ke Entity List. (bis.gov)

BIS menggambarkan pelanggaran tersebut melibatkan 56 ekspor atau ekspor yang dicoba yang terkait rantai re-ekspor. (bis.gov)

Kasus ini menggambarkan tesis “penegakan rantai pasok keping”: AS semakin memperlakukan rute melalui negara ketiga dan titik perakitan/pengujian (assembly/testing stopovers) sebagai risiko tata kelola, bukan sekadar logistik yang tidak berbahaya. Konsekuensi negosiasi bagi pemerintah mitra adalah bahwa ekonomi teknologi “menengah” tidak bisa mengharapkan jalur ekspor yang berlaku terus (evergreen) tanpa menunjukkan kapasitas penegakan atas pengalihan.

AS boleh fleksibel dalam kategori destinasi, tetapi tidak fleksibel dalam standar bukti ketika rantai kepemilikan menyerupai pola pengelakan.

Ada pula perubahan cara eksportir memandang rasa takut. Kekhawatannya beralih dari “apakah lisensi akan disetujui?” menjadi “dapatkah dibuktikan—dengan bukti operasional—bahwa arsitektur transaksi tidak memfasilitasi penggunaan akhir yang dilarang?” Kerangka kepatuhan bertingkat memang dirancang untuk mengelola kebutuhan pembuktian seperti ini.

Kasus 1: Pencabutan AI Diffusion—dorongan industri bertemu gesekan diplomatik

Pencabutan AI Diffusion bukan sekadar catatan administratif. Ini koreksi kebijakan yang terukur—namun bagian yang terukur bukan hanya bahwa sebuah aturan dicabut, melainkan sinyal bahwa AS tak lagi menjadikan mekanisme penyebaran (rollout) yang luas sebagai kenop kontrol utama.

Menurut pemberitaan Associated Press, Kementerian Perdagangan AS mencabut aturan era Biden yang dijadwalkan mulai berlaku dan yang akan menempatkan batas pada jumlah keping AI yang dapat diekspor ke pasar internasional tertentu tanpa persetujuan pemerintah federal. (apnews.com)

Laporan yang sama juga mengutip pedoman Commerce yang menggambarkan persyaratan tersebut sebagai penghambat inovasi dan membebani perusahaan dengan kewajiban regulatori yang berat. (apnews.com)

Bagi eksportir, pergeseran praktisnya adalah “apa yang dapat dikirim” tidak lagi terlalu melekat pada logika ambang batas yang berlaku menyeluruh, melainkan pada bagaimana perusahaan menyusun kepatuhan seputar risiko penggunaan akhir. Dengan kata lain, beban kepatuhan tidak menghilang—ia bergeser dari penghitungan berdasarkan destinasi/skala ke bukti lisensi berbasis kasus dan ekspektasi uji tuntas yang dapat diaudit regulator bila sinyal pengalihan muncul.

Di sinilah gesekan diplomatik menjadi penting. Dalam negosiasi, pemerintah mitra tidak hanya menanyakan apakah mereka bisa memperoleh persetujuan. Mereka akan makin menegosiasikan kondisi agar dapat diperlakukan sebagai mitra berisiko rendah—terutama ketika pengadaan AI dimediasi oleh pihak ketiga, hub logistik, atau infrastruktur pusat data yang digunakan bersama.

Dengan demikian, pencabutan berfungsi seperti instruksi kepada industri dan mitra: bangun sistem kepatuhan yang dapat divalidasi, karena AS bersedia mendesain ulang kontrol selama hasil tata kelolanya dapat diverifikasi.

Kasus 2: Ekspansi data-center VEU BIS—di mana lisensi bertemu realitas operasional

Kasus kedua bukan perkara pengadilan; melainkan pilihan desain administratif yang memperlihatkan apa yang BIS anggap dapat diterapkan dalam praktik. Dalam sebuah pengumuman, BIS memperluas program VEU untuk mencakup pusat data. (bis.gov)

BIS secara eksplisit memosisikan hal tersebut sebagai bagian dari kepentingan keamanan nasional AS yang lebih luas, yaitu bekerja sama dengan industri dan pemerintah mitra untuk mengembangkan ekosistem teknologi global yang aman. (bis.gov)

Bagi mitra dan industri, hasilnya adalah kelayakan lisensi yang semakin terkait tata kelola operasional: pusat data dapat memenuhi syarat sebagai antarmuka terstruktur antara eksportir dan risiko penggunaan akhir, sehingga berpotensi mengurangi kebutuhan akan kuota destinasi yang berlaku menyeluruh. Namun ada konsekuensi pembuktian: perdagangan berbasis pusat data menuntut uji tuntas dan mekanisme pelaporan yang lebih kuat, agar regulator dapat menelusuri sinyal risiko melalui tenancy dan kontrol penggunaan akhir.

Karena itu, ekspansi VEU berbasis pusat data pada praktiknya menjadi semacam cetak biru untuk perjanjian “kemakmuran teknologi” dengan ekonomi teknologi “menengah”. Bukan berarti perjanjian-perjanjian tersebut akan menyebut “VEU” dalam judul—melainkan bahwa kondisi yang diminta kepada mitra kemungkinan besar akan menyerupai ekspektasi tata kelola yang tertanam dalam program-program ini.

Apa arti “kerangka kepatuhan” dalam negosiasi yang akan datang

Ketika Washington bernegosiasi—atau, lebih tepatnya, mengoordinasikan—jalur perizinan ekspor, pendekatan yang digunakan cenderung tidak langsung: lewat kerangka yang menciptakan perilaku kepatuhan privat yang dapat diprediksi, sekaligus memberi regulator tuas verifikasi yang konkret.

Berdasarkan arah kebijakan dan pedoman BIS terkait pencabutan AI diffusion serta ekspektasi uji tuntas, pemerintah mitra seharusnya mengantisipasi kondisi negosiasi yang mirip berikut:

  1. Kerangka kepatuhan bertingkat: kelayakan berbeda menurut kinerja mitra dan profil risikonya, bukan batas ekspor yang seragam. (Ini selaras dengan langkah AS menuju tiering dan eligibilitas program.)

  2. Due diligence dan penanganan red-flag: eksportir dan pihak re-ekspor harus menunjukkan proses untuk penyaringan dan risiko pengalihan, bukan hanya menilai legalitas destinasi. (mayerbrown.com)

  3. Mekanisme koordinasi mitra: kanal pemerintah-ke-pemerintah untuk mendukung verifikasi dan penegakan—terutama relevan ketika unit operasional adalah pusat data dan rantai kepemilikan tersebar di berbagai simpul.

Eksportir juga perlu mengantisipasi bahwa kondisionalitas yang “mirip kesepakatan” akan tertanam dalam syarat lisensi, validasi, dan kontrol operasional—bukan dalam bahasa publik bergaya kuasi-tarif (tariff-style language). Inilah evolusi sunyi perjanjian perdagangan teknologi: kesepakatan diwujudkan dalam spreadsheet, pernyataan penggunaan akhir, dan bukti tata kelola yang siap diaudit.

Alat, platform, dan standar yang akan menentukan implementasi

Meskipun perjanjian perdagangan teknologi berjalan melalui aturan lisensi pemerintah, pekerjaan kepatuhan yang sesungguhnya terjadi melalui perangkat lunak dan sistem operasional yang mampu menghasilkan jejak audit. Bagi organisasi yang membangun kepatuhan ekspor untuk rantai pasok AI accelerator, nilai terbesar bukan pada pelacakan model yang “mengilap”, melainkan kemampuan menghubungkan tiga jenis data: siapa pelanggan tersebut, apa yang persis dikirim atau diaktifkan, dan bagaimana kemampuan itu dicegah dialihkan atau diekspor ulang melalui lingkungan operasional.

Ada tiga kategori yang paling penting karena langsung memetakan pada apa yang biasanya diminta dalam kerangka tata kelola ala BIS: bukti penyaringan, jejak transaksi, dan kontrol pemindahan ke hilir.

  • Sistem penyaringan pelanggan, entitas, dan end-use (serta penangkapan bukti yang siap audit): tim kepatuhan perlu kemampuan menyaring pihak lawan dan entitas hilir terhadap pembatasan/sanksi dan bendera risiko internal, lalu menyimpan rekaman yang tidak dapat diubah (immutable) tentang apa yang dicek, kapan, dan oleh siapa—agar klaim due diligence bisa bertahan saat audit. (Pendekatan yang mirip VEU bergantung pada menunjukkan kontrol yang berulang, bukan hanya mengambil keputusan sekali saja.)

  • Perangkat kerja klasifikasi ekspor dan alur keputusan lisensi (ECCN/item-control traceability): sistem yang mengaitkan pengiriman ke ECCN/item controls—serta ke persyaratan lisensi, kondisi, dan dokumentasi yang menyertainya—menjadi tulang punggung keputusan lisensi ekspor AI accelerator sehari-hari. Nilai perangkat ini ada pada pencegahan “drift” dokumentasi: klasifikasi ekspor yang dimasukkan hari ini harus tetap konsisten dengan informasi yang disimpan untuk verifikasi masa depan atau peninjauan insiden. (bis.doc.gov)

  • Instrumentasi kepatuhan berbasis cloud dan data-center (tenancy, kontrol akses, serta logging transfer ke hilir): karena kerangka VEU secara eksplisit mencakup pusat data, onboarding internal pelanggan, mekanisme kontrol akses, dan pencatatan log menjadi infrastruktur kepatuhan de facto. Yang diminta bukan sekadar mencatat peristiwa, tetapi menunjukkan bahwa pola akses tenancy dan beban kerja selaras dengan pembatasan end-use yang disetujui serta asesmen risiko pengalihan. (bis.gov)

(Adanya persyaratan spesifik vendor tidak selalu dipaparkan secara publik, tetapi bukti kepatuhan yang diminta rezim lisensi cenderung menuntut instrumen operasional seperti ini: sistem yang menghasilkan rekaman konsisten dan dapat ditanyakan tentang penyaringan, klasifikasi, serta kontrol operasional.)

Kesimpulan: bernegosiasi untuk tata kelola, bukan sekadar akses—dan bersiap menghadapi iterasi lisensi berikutnya

Pencabutan AI Diffusion pada Mei 2025 menjadi titik belok karena menandai perubahan dalam filosofi desain perizinan AS: berkurangnya penekanan pada kuota destinasi yang luas dan sarat kepatuhan, serta meningkatnya fokus pada kelayakan bertingkat dan komitmen tata kelola yang bisa diskalakan untuk perdagangan berbasis pusat data. (apnews.com)

Namun pelajaran penegakannya tetap tegas: re-ekspor dan rute melalui negara ketiga akan terus dipandang sebagai risiko kepatuhan, dan lanskap sanksinya nyata—ditunjukkan oleh penyelesaian BIS atas Applied Materials senilai 252 juta dolar AS, yang terkait jalur pengalihan melalui struktur perakitan/re-ekspor. (bis.gov)

Rekomendasi kebijakan (aktor konkret): Kementerian Perdagangan AS (BIS) sebaiknya menerbitkan kerangka yang lebih jelas tentang “kerangka kepatuhan bertingkat” untuk eksportir dan pemerintah mitra—memetakan bagaimana kelayakan VEU pusat data diterjemahkan menjadi ekspektasi uji tuntas yang konkret, interval pelaporan, dan persyaratan bukti audit—sambil mempertahankan sikap pencegahan (deterrence) terhadap jalur pengalihan. Langkah ini akan mengurangi ketidakpastian tanpa melemahkan tujuan keamanan, serta membantu ekonomi teknologi “menengah” menegosiasikan kewajiban yang dapat diprediksi, alih-alih berimprovisasi kepatuhan di bawah teks aturan yang berubah-ubah. (bis.gov)

Prakiraan (timeline): Pada Q4 2026, aktivitas negosiasi untuk akses teknologi di luar jalur “prosperity deal” yang sedang berjalan diperkirakan akan lebih terkonsentrasi pada arsitektur kelayakan lisensi—khususnya, mitra mana yang dapat mengoperasionalkan tata kelola VEU berbasis pusat data serta menunjukkan due diligence yang berkelanjutan. Alasannya sederhana: kebutuhan listrik dan pembangunan infrastruktur pusat data meningkat tajam di AS, sementara DOE memproyeksikan pertumbuhan listrik pusat data antara 325 hingga 580 TWh pada 2028, sehingga mendorong insentif jangka pendek bagi mitra untuk menyelaraskan tata kelola mereka dengan cepat. (energy.gov)

Setelah membaca artikel ini, pergeseran praktis yang perlu dipahami pembaca—investor, pembuat kebijakan, maupun operator—adalah berhenti memperlakukan perjanjian perdagangan teknologi sebagai “bargain” yang dipimpin headline seperti perdebatan tarif. Negosiasi yang sesungguhnya terjadi ketika kerangka kepatuhan berubah menjadi perilaku yang bisa dilisensikan: dalam definisi tier, persyaratan bukti, serta kemampuan terukur untuk mencegah pengalihan melalui rantai pasok yang kompleks dan operasi berbasis pusat data.

Referensi